Latest Entries »

Pd suatu hari Si Amin disuruh emaknya mngambil mangga di kebun..,

Sedang asik-asiknya Si Amin mngambil mangga, tiba-tiba di bawah dia melihat sepasang remaja sedang making love… Berdirilah bulu roma Si Amin.

Entah knapa dia tetap bertahan di atas pohon sambil menahan lututnya yg mulai gemetar… Tak lama kmudian didengarnya suara isak tangis remaja perempuan itu, sambil tersendat-sendat dia bicara.

“Mas bagaimana kalo saya hamil nanti?? Mas harus mau btanggungjawab yah..!”

“Sudahlah dik.., kita serahkan semua ini pada yg di Atas..”,jawab si lelaki.

Si Amin terperanjat. ., lalu dia berteriak, “Eh enak saja loe..!!, menyerahkan semuanya pada gw.., Gw kan cuma liat doangg.., nggak ikut berbuat..!!” :D

Every Day is a Special

Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan lingerie istimewa
kesayangannya. Dia membuka bungkusan berbahan sutra itu, memandang pakaian
dalam yang begitu spesial hingga dikemas dalam kotak berlapis sutra.
“Istriku membeli ini ketika pertama kali kami pergi ke Sydney, kira-kira 8
atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini apalagi
mengenakannya. Karena menurutnya, hanya akan dia gunakan untuk kesempatan
yang istimewa.”

Dia melangkah ke dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan tersebut di
dekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman. Istrinya baru saja
meninggal. Dia menoleh padaku dan berkata, “jangan pernah menyimpan sesuatu
untuk kesempatan istimewa, karena setiap hari dalam hidupmu adalah
istimewa!”

Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang
aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa
tanpa khawatir tentang apapun. Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama
keluarga dan mengurangi waktu bekerja.

Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman supaya
bisa hidup, tidak semata-mata supaya bisa bertahan hidup. Aku tidak
berlama-lama menyimpan sesuatu. Aku menggunakan gelas-gelas kristal
kesayanganku setiap hari.

Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke supermarket, jika aku
menyukainya. Aku tidak akan menyimpan parfum spesialku untuk kesempatan
istimewa, aku menggunakannya kemana pun aku menginginkannya.

Kata-kata suatu hari, suatu saat nanti…sudah lenyap dari kamusku. Jika
dengan melihat, mendengar dan melakukan sesuatu, bisa membuat kita lebih
berharga dan bahagia, aku ingin melihat, mendengar atau melakukannya
sekarang.

Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku itu apabila dia tahu
dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya.

Aku berpikir, jika dia tahu, malam sebelumnya dia pasti sedang mengenakan
lingerie kesayangannya itu. Atau sehari sebulumnya dia akan menelepon
rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia akan menelpon
teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan.
Mungkin dia akan pergi makan martabak spesial, makanan favoritnya bersama
suaminya. Hal-hal kecil yang mungkin akan dia sesali ketika tahu dia tak
akan dapat lagi melakukannya.

Aku teringat orang-orang yang aku kasihi. Hm…aku pasti akan menyesal dan
sedih, bila tidak sempat mengatakan betapa aku sangat mencintai mereka.
Sekarang, aku akan mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apapun yang
bisa membuatku tertawa dan menikmati hidup. Dan setiap pagi, aku akan
berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini adalah hari yang istimewa
bagiku.

Setiap hari, setiap jam, setiap menit, adalah istimewa.

Sumber: Tidak Diketahui

Pertapa Muda dan Kepiting

Suatu ketika di sore hari yang sejuk, nampak seorang pertapa muda sedang
bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang
berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah
kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.

Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke
arah tepi sungai, sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana nampak
seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya
untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang
deras.

Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Ia segera mengulurkan
tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur,
dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya
terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena
bisa menyelamatkan si kepiting.

Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama bersila dan
mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi
sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama. Maka, si
pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit
oleh kepiting demi membantunya.

Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi.
Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin
membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan
menegur si pertapa muda, “Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan
hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau
membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?”

“Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda.
Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka, saya tidak
mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa mahluk
lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,” jawab si pertapa muda dengan
kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.

Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah
ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat
kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap ranting itu
dengan capitnya.”

“Lihat, Anak muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik,
tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik,
yakni untuk menolong mahluk lain, tidak harus dengan cara mengorbankan diri
sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, bukan?”

Seketika itu, si pemuda tersadar. “Terima kasih, Paman. Hari ini saya
belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan
kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang
paman ajarkan.”

Mempunyai sifat belas kasih, mau memperhatikan dan menolong orang lain
adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada anak kita,
orang tua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun. Tetapi, kalau cara
kita salah, seringkali perhatian atau bantuan yang kita berikan bukannya
memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang. Kita yang tadinya tidak
tahu apa-apa dan hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung
beban dan kerugian yang tidak perlu.

Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan
dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak
hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu, tetapi sekaligus
membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu. []

Sumber: Tidak Diketahui

BOS & SAYA

BOSS : Selalu benar.
SAYA : Selalu salah.
• Jika BOSS tetap pada pendapatnya, itu konsisten.
• Jika SAYA demikian, itu keras kepala.

• Jika BOSS berubah 2x pendapat, itu fleksibel.
• Jika SAYA demikian, itu plin plan.

• Jika BOSS bekerja lambat, itu teliti.
• Jika SAYA demikian, itu bodoh.

• Jika BOSS bekerja cepat, itu terampil.
• Jika SAYA demikian, itu asal 2x an.

• Jika BOSS lambat memutuskan, itu hati 2x.
• Jika SAYA demikian, itu idiot.

• Jika BOSS cepat mengambil keputusan, itu berani ambil resiko.
• Jika SAYA demikian, itu gegabah.

• Jika BOSS melanggar prosedur, berarti inisiatif.
• Jika SAYA demikian, itu tidak tahu aturan.

• Jika BOSS menyatakan : “Mudah” itu berarti optimis.
• Jika SAYA demikian menyatakan : “Mudah” itu sok.

• Jika BOSS sering keluar kantor, itu cari peluang.
• Jika SAYA demikian, itu cari kesempatan.

• Jika BOSS sering entertain, itu me-lobby customer.
• Jika SAYA demikian, itu menghamburkan anggaran.

• Jika BOSS men-service atasan, itu loyalitas.
• Jika SAYA demikian, itu menjilat.

• Jika BOSS sering tidak masuk, itu kecapaian kerja keras.
• Jika SAYA demikian, itu malas.

• Jika BOSS membuat lelucon, itu humoris
• Jika SAYA demikian, itu frustasi.

• Jika BOSS mengirim joke ini ke saya berarti peace
• Jika SAYA nekat ngirim joke ini ke BOSS berarti rest in peace :D

Renungan Untuk Suami

A self reflection for husbands:
1. Kakek berkata, hargai istrimu sebagaimana engkau menghargai ibumu, sebab istrimu juga seorang ibu dari anak-anakmu.

۞ *•.¸.•*۞

2. jika marah boleh tidak berbicara dengan istrimu, tapi jgn bertengkar dengannya (membentaknya, mengatainya, memukulnya)

۞ *•.¸.•*۞

3. jantung rumah adalah seorang istri. Jika hati istri mu tidak bahagia maka seisi rumah akan tampak seperti neraka (tidak ada canda tawa, manja, perhatian). Maka sayangi istrimu agar dia bahagia dan engkau akan merasa seperti di surga.

۞ *•.¸.•*۞

4. besar atau kecil gajimu, seorang istri tetap ingin diperhatikan. Dengan begitu maka istrimu akan selalu menyambutmu pulang dengan kasih sayang.

۞ *•.¸.•*۞

5. 2 org yg tinggal 1 atap (menikah) tidak perlu gengsi, bertingkah, siapa menang siapa kalah. Karena keduanya bukan untuk bertanding melainkan teman hidup selamanya.

۞ *•.¸.•*۞

6. diluar banyak wanita idaman melebihi istrimu. Namun mereka mencintaimu atas dasar apa yg kamu punya sekarang, bukan apa adanya dirimu. Saat kamu menemukan masa sulit, maka wanita tersebut akan meninggalkanmu dan punya pria idaman lain dibelakangmu.

۞ *•.¸.•*۞

7. banyak istri yang baik. Tapi diluar sana banyak pria yang ingin mempunyai istri yg baik dan mereka tdk mendapatkannya. Mereka akan menawarkan perlindungan terhadap istrimu. Maka jangan biarkan istrimu meninggalkan rumah karena kesedihan, Sebab ia akan sulit sekali untuk kembali… ‎

Sumber : Tidak diketahui

‘GUE UDAH TAU SEMUANYA’

Paijo yang baru msk SMU, masa pubernya suka ngerjain orang.

Kali ini dia dapet kata baru buat ngerjain orang :

‘GUE UDAH TAU SEMUANYA’

Hari pertama, dia nelepon temannya :

‘Rin, gue udah tau semuanya’
‘Hah’ Suara disana terdengar lemas.
‘Jo, elu jangan bilang Indri kalo gue jalan sama cowoknya ya Jo. Gue ada voucher makan di HokBen,
elu jangan bilang-bilang yah. Sorry gue cuma bisa ngasih itu doang.’

‘Oke lah, gue sih terima aja, lu kan temen gue.’

Begitu telepon ditutup, Paijo langsung teriak girang. ‘Wah oke juga nih, gue dapet voucher HokBen’
Coba gue praktekin lagi.’

Kali ini Paijo masuk kamar kakaknya dan langsung bicara pelan didekat kuping kakaknya yang lagi tiduran.
‘Wa, gue udah tau semuanya. Ternyata gitu ya Wa.’
Dewa langsung bangun, mengambil sebuah kunci dan berbisik pada Paijo.
‘Jo, lu boleh pake mobil sebulan penuh plus gue kasih bensinnya. Tapi jangan bilang Papi kalo gue nyimeng yah’

‘Beres’ Paijo benar-benar girang,

Kali ini dia mencegat Papinya yang baru pulang kerja.

‘Papi’ …. Paijo mengejar Papinya yang cuek bebek.
‘Pah, Paijo mau ngomong’
‘Ada apa sih Jo ?!! Papa capek nih.’
‘Paijo udah tau semuanya Pah’
Mendadak Papanya
celingukan, mengeluar kan HP dan menelepon seseorang.
‘Jo Credit Card kamu udah Papa aktifkan lagi. Tapi Jangan pernah bilang Mama soal si Inem.’

Paijo girang campur sebel.
Ternyata Papanya menduakan Mama cuma demi pembantu nya, si Inem.
Paijo langsung ber lari tanpa sepatah katapun.

Diluar,Paijo bertemu Pak Udin, sopir nya yang sudah belasan tahun bekerja dirumah nya. Paijo mulai usil lagi. Dia kesal juga,
pasti dia tau soal si Inem,
tapi bungkam selama ini,
gue kerjain juga nih, pikirnya.

‘Pak.. !!!’ Suara Paijo benar-benar membuat kaget sopir nya,
‘Saya sudah tau semuanya.!!’
Pak Udin terbengong, dan perlahan meneteskan airmata.
Paijo malah dibuatnya bingung… ???????????????

‘Jo!!!…Peluklah Bapakmu ini Sayang…Akhirnya kau tau juga…=)) =D X_X
Paijo PINGSAN..!

Preman vs Gadis Cantik

Seorang preman berwajah garang sedang mengendarai motor,dan melewati seorg gadis cantik bergaun panjang yg sedang berdiri di atas jembatan layang.
B)
Preman menghentikan motornya dan bertanya: “apa yg sedang km lakukan?” jwb si gadis “saya ingin bunuh diri ” Lalu preman mengambil kesempatan dan berkata,”kalau begitu sblm km lompat berikan saya ciumanmu yg terakhir”

Si gadis pun akhirnya menciuminya dan stlh ciuman berakhir,sang preman dg wajah berseri2 berkata,” mgp km ingin bunuh diri? ciumanmu sgt panas dan menggairahkan,pasti byk pria yg akan tergila2 dg ciumanmu”

Dengan sedih si gadis berkata “saya ingin bunuh diri krn orangtua dan keluarga saya menentang saya berpakaian dan berdandan seperti wanita “

::: Arti Hidup :::

Seorg professor berdiri di dpn kelas filsafat.
Saat kelas dimulai, dia mengambil toples kosong dan mengisi dgn bola2 golf.
Kemudian berkata kpd murid2nya, apakah toples sdh penuh…… ?
Mereka setuju !!!!
Kemudian dia menuangkan batu koral ke dlm toples, mengguncang dgn ringan. Batu2 koral mengisi tempat yg kosong di antara bola2 golf.
Kemudian dia bertanya kpd murid2nya, apakah toples sdh penuh ??Mereka setuju !!!
Selanjutnya dia menabur pasir ke dlm toples …
Tentu saja pasir menutupi semuanya.
Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sdh penuh..??.murid , “Yes”…!!
Kemudian dia menuangkan dua cangkir kopi ke dlm toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir. Para murid tertawa….
“Sekarang.. saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu. “
“Bola2 golf adalah hal yg penting; Tuhan, keluarga, anak2, kesehatan.
“Jika yg lain hilang dan hanya tinggal mrk, maka hidupmu msh ttp penuh.”
“Batu2 koral adalah hal2 lain, spt pekerjaanmu, rumah dan mobil.”
“Pasir adalah hal2 yg sepele.”
“Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dlm toples, maka tdk akan tersisa ruangan utk batu2 koral ataupun utk bola2 golf..
Hal yg sama akan terjadi dlm hidupmu.”
“Jika kalian menghabiskan energi utk hal2 yg sepele, kalian tdk akan mempunyai ruang utk hal2 yg penting buat kalian.”
“Jadi Beri perhatian utk hal2 yg penting utk kebahagiaanmu.
“Bermainlah dgn anak2mu.”
“Luangkan wkt utk check up kesehatan.”
“Ajak pasanganmu utk keluar makan malam”
“Berikan perhatian terlebih dahulu kpd bola2 golf.
Hal2 yg benar2 penting. Atur prioritasmu.
Baru yg terakhir, urus pasirnya.
“Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, “Kopi mewakili apa?
Profesor tersenyum, “Saya senang kamu bertanya.”
“Itu utk menunjukkan kpd kalian, sekalipun hidupmu tampak sdh sgt penuh, tetap selalu tersedia tempat utk secangkir kopi bersama sahabat”
Cerita ini sangat indah, sempatkan untuk membaca…

Orang bijak pernah berkata bahwa sejatinya kebenaran itu bukan untuk
dipelajari, melainkan harus ditemukan. Lalu, di mana kita dapat mencari
kebenaran?

“Kebenaran dapat ditemukan di dalam diri kita saat diam,” ujar sang bijak.
Sebab, dalam diam, kita bisa berbicara dengan hati. Hati merupakan teleskop
jiwa, sedangkan mata adalah teleskop dari hati.

Kadang kala kita sering mempertunjukkan kekerdilan diri karena tidak mau
diam. Mulut kita terus-menerus berbicara, padahal kita sendiri saja tidak
yakin apakah pembicaraan itu benar-benar cerminan keinginan hati. Mulut
kita sudah berbuih-buih karena begitu getolnya berbicara, namun isinya
hanya bohong belaka.

Sesungguhnya, diam adalah perisai orang bodoh dan pelindung bagi orang
bijak. Orang bodoh tidak perlu membuktikan kebodohannya bila dia diam.
Dengan berdiam diri serta belajar sabar, persoalan yang begitu pelik akan
lebih mudah terpecahkan.

Coba kita simak kisah Nasrudin saat sibuk mencari jarum yang hilang di
halaman rumahnya. Berjam-jam dia mencari jarum yang hilang itu sehingga
mengundang perhatian seluruh tetangganya. Akhirnya mereka ikut sibuk
membantu Nasrudin, tetapi jarum yang dicari tidak ditemukan juga. Seolah
olah lenyap ditelan bumi.

Namun, ada salah seorang tetangga yang diam saja sejak tadi. Ia hanya
memperhatikan tingkah rekan-rekannya. Lalu ia mendekati Nasrudin dan
bertanya, “di mana jarum itu terjatuh?” Nasrudin menjawab, “di dalam rumah.”

Ia terkejut. Jarum yang hilang di dalam rumah, kenapa dicari di halaman
rumah?

“Ya, kalau saya mencarinya di dalam rumah tidak akan ketemu karena gelap
gulita, jadi saya mencarinya di halaman rumah karena terang oleh cahaya
matahari.”

Kalau kita membaca kisah Nasrudin, kita akan menemukan bahwa seringkali
logika Nasrudin terbolak-balik. Namun, sesungguhnya, ada makna lain yang
tersirat di dalam cerita. Dari analogi cerita di atas misalnya, bisa
diartikan banyak makna. Salah satunya, bahwa sebenarnya kehidupan itu
intinya ada di hati. Jika hati ‘gelap’, sulit menemukan kebenaran. Jadi,
kita perlu ‘cahaya’. Hanya karena tak memahaminya, maka kita berada dalam
kegelapan.

Sebenarnya, setiap gerak, isyarat, bentuk, suara, perkataan, ekspresi,
suasana, semuanya menjadi ekspresi sifat dan karakter seseorang. Tanpa
harus berbicara saat memandang mata lawan bicara, kita bisa mengartikan
apakah dia benar benar ridha atau tidak, menolak atau menyetujui, cinta
atau benci, bohong atau jujur. Bahkan, kearifan dan kebodohan semua
menjelma melalui mata.

Melalui pandangan mata, kita akan tahu bahwa persahabatan itu demi
kepentingan profesional, ataukah demi pamrih. Memang tidak bisa dipungkiri
bahwa di dalam kehidupan ini pasti ada pamrih, baik kepada orangtua, anak,
istri, mertua, maupun tetangga. Yang membedakan hanyalah kadar
kepamrihannya.

Kita sering tak peduli pada tangis orang lain. Banyak orang kaya dan punya
kedudukan tinggi, tapi hidupnya selalu dipenuhi kekecewaan. Ia sering sedih
tanpa tahu penyebabnya. Mereka sangat merindukan perasaan yang penuh
bahagia. Ada pepatah mengatakan, “Semakin kencang mengejar kebahagiaan,
membuat kita semakin tidak bahagia karena ternyata sangat sulit menemukan
kebahagiaan itu.”

Semua itu terjadi karena kita kurang merenung diri dan introspeksi. Hati
kita menjadi beku dan tidak lagi peka mendengar suara dan keluhan orang
lain. Bila kita tak mampu mendengar suara hati sendiri, bagaimana bisa
memahami orang lain? Maka, yang sering muncul kemudian adalah kita
menyalahkan orang lain, menyikut, mempermalukan, membodohi, dan menipu
orang lain. Kita menjadi manusia yang sangat licik, munafik, naif dan
selalu merasa paling benar.

Menduduki jabatan orang nomor satu, entah itu di tingkat propinsi,
kabupaten ataupun desa, menjadi idaman setiap individu. Setiap orang yang
berkecimpung di dunia politik, niscaya akan sudi berakit-rakit, demi duduk
di singgasana gubernur, bupati ataupun kepala desa.

Dalam sejarah selama dekade sepuluh tahun setelah reformasi, bagaikan
kehabisan tinta untuk mencatat drama politik, intrik yang sangat tragis,
darah serta nyawa melayang demi perebutan singgasana tersebut. Bayaran yang
teramat mahal demi memenuhi ambisi pribadi.

Semua itu bisa terjadi karena dorongan ambisi pribadi demi kekuasaan.
Karena dengan kekuasaan yang dimiliki, seseorang mampu membuat orang lain
bertekuk lutut. Itu sebabnya, sihir kekuasaan membuat banyak orang
berlomba-lomba ingin memilikinya. Apalagi tradisi kekuasaan di negeri ini
seringkali memberikan keistimewaan: bila rakyat bekerja dengan sepuluh
jemari, maka sang penguasa cukup hanya dengan satu ruas jari, yakni jari
telunjuk untuk menuding orang lain.

Thomas Hobbes merumuskan kenikmatan kekuasaan tersebut sebagai kenikmatan
memiliki kekuasaan (joy of absolute power), kemegahan diri (self-glory) ,
dan kesenangan hidup (life of pleasure). Tidak jarang, beberapa pemuka
agama juga ikut ikutan mengejar kekuasaan dengan dalih demi menegakkan
hukum Allah di bumi, kendati tidak sedikit yang berambisi demi menikmati
fasilitas.

Maka, dengan kerendahan hati saya meminta dengan sangat kepada para calon
gubernur, khususnya Jawa Tengah, untuk melipat ambisi pribadi serta
menyimpan rapat-rapat di dalam lemari besi ambisi untuk mendapatkan
kenikmatan yang dijanjikan kekuasaan, dan tidak mengorbankan rakyat kecil
hanya demi mencapai ambisi pribadi.

Para calon gubernur hendaknya menjadi lilin ataupun sebatang pohon rindang.
Lilin mau berkorban sampai lelehan terakhir hidupnya tanpa merusak. Pohon
yang rindang, menjadi tempat peristirahatan burung-burung, daun-daunnya
bisa menjadi pupuk tanaman di sekililingnya, renceknya bisa digunakan
memasak, dan akarnya yang besar bisa digunakan untuk leyeh-leyeh istirahat
di siang hari. Itulah gambaran keikhlasan dalam kekuasaan.

Sumber: Tidak Diketahui

Sepasang burung kecil yang kubeli karena bujukan pedagangnya ini
menyadarkan satu soal lagi kepadaku bahwa jangan-jangan selama ini kita
salah paham terhadap kicauan burung piaraan. Jangan-jangan yang kita
katakan berkicau itu adalah sebuah omelan. Jangan-jangan yang kita sangka
nyanyian itu adalah sumpah serapah.

Sepasang burung kecil ini memang datang dari jenisnya yang ramai sekali.
Baik gerak maupun bunyinya tak pernah berhenti. Sangkarnya yang juga kecil
itu dibuat terpisah. ”Ini darurat. Nanti bisa diganti. Jika ditempatkan
dalam sangkar tersendiri dan diletakkan terpisah, bunyinya akan lebih gila
lagi,” kata pedagang burung ini berapi-api.

Seluruh nasihatnya aku turuti. Ketika di rumah, burung ini aku tempatkan
terpisah. Hasilnya luar biasa. Kicauanya deras sempurna. Ia menyanyi tanpa
henti dan menjadi sumber keheranan tetangga. Setiap barang baru yang
tetangga ikut mengagumi, sungguh mendatangkan kebanggaan ekstra.

Tapi baru selang beberapa hari, salah satu sangkar ini terjatuh dan rusak.
Terpaksa burung yang satu diungsikan sementara ke sangkar pasangannya.
Burung yang sejatinya memang sepasang ini kembali dipertemukan dalam satu
kandang. Hasilnya menakutkan: keduanya langsung bisu bersama-smaa. Dari
burung kecil yang lincah dan periang, seketika menjadi burung yang pemalas
dan menjengkelkan. Kerjanya cuma nangkring berdampingan, mencari kutu di
bulu pasangannya dan kurangajar, mereka berciuman. Burung ini, tanpa seizin
sang majikan, berani menjalani cinta terlarang. Begitu asyiknya mereka
bermesraan sehingga lupa tugas utamanya: menghibur majikan.

Hampir saja aku murka dibuatnya. Terngiang kembali nasihat penjual burung
ini sebelumnya: dicampur di satu kandang, itulah pantangannya. Kini
pantangan itu kulanggar sendiri, dan aku harus bersiap menanggung
akibatnya. Maka secepatnya pantangan itu hendak kembali kujaga. Sangkar
baru kusiapkan demi mengembalikan kicauannya. Dan ketika sangkar baru sudah
tiba, sudah saatnya burung celaka ini dipindah paksa, mereka belum pula
menyadari keadaannya.

Keduanya masih saja nangkring berhimpitan. Begitu malasnya burung-burung
ini sehingga kicauan tak lagi mereka perlukan. Kicau, harga termahal dari
seekor burung telah mereka lupakan oleh kesibukan pacaran. Baru benar-benar
ketika mereka telah siap dipisahkan, aku merasakan perbedaan cara
menentukan harga di antara kami. Aku yang menganggap mahal kicauannya pasti
berkebalikan dengan burung-burung ini yang menganggapnya sebagai soal yang
murah saja. Murah jika bandingannya adalah kebersamaan dan kebahagiaan
mereka ketika sedang bersama-sama.

Mereka tak perlu berkicau lagi karena dada-dada mereka pasti sedang penuh
oleh rasa bahagia. Aku baru bertanya sekarang, jangan-jangan kicauan yang
selama ini kudengar dari paruhnya itu adalah sebuah jeritan. Burung ini
bisa jadi bukan sedang menyanyi melainkan sedang memekik-mekik untuk
dipertemukan dengan kekasihnya yang hilang, tetapi aku menangkapnya sebagai
nyanyian. Burung ini mungkin tengah menangis meraung-raung sementara di
kupingku terdengar sebagai kemerduan.

Begitu bernafsunya aku ini tehadap kegembiraanku sendiri sehingga kepedihan
pihak lain kujadikan bahan baku. Kenapa ada ratapan yang kudengar sebagai
nyanyian cuma karena nafsuku yang terlalu untuk kegembiraanku.

Prie GS

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.